RENUNGAN : Syukur Dalam Doa

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. (Filipi 1:3)

 

Seorang nenek sedang melamun memikirkan keadaan anak, menantu, dan cucu-cucunya yang tinggal di luar kota. Dalam hati dan pikirannya, terbersit kepedulian yang besar sehingga menimbulkan riak-riak kekhawatiran akan nasib mereka. Kakek menegurnya. Daripada khawatir, mengapa tidak menyerahkan mereka ke dalam perlindungan Tuhan? Nenek pun menghentikan lamunannya dan mulai berdoa bagi keluarga yang sangat dikasihinya itu. Pelan-pelan kekhawatirannya sirna, berganti dengan syukur dan sukacita.

Dalam pendahuluan suratnya bagi jemaat di Filipi, Paulus melukiskan perasaannya yang penuh syukur dan sukacita manakala ia mengingat mereka (ay. 3 dan 4). Ia melukiskan bagaimana jemaat tersebut selalu ada di dalam hatinya (ay. 7). Meskipun dalam kondisi terpenjara, ia tidak tercekam oleh kekhawatiran. Ia tidak kehilangan sukacita karena Kristus. Terali penjara tidak sanggup mengungkung pengharapannya. Di sana ia juga tekun berdoa supaya jemaat di Filipi semakin bertumbuh dalam kasih dan pengetahuan yang benar (ay. 9). Paulus tidak membuang-buang waktu dengan mengeluh.

Kita pun dapat meneladani sikap tersebut. Alih-alih larut dalam kesedihan, kemurungan, atau kekhawatiran akan kerabat yang tinggal jauh dari kita, alangkah baiknya jika kita memanjatkan doa bagi mereka. Sekalipun kita tidak mengetahui secara persis keadaan mereka, kita dapat bersyukur dan bersukacita atas pemeliharaan Tuhan. Ucapan syukur dan sukacita ini selanjutnya akan melipatgandakan kasih kita satu sama lain.—YOH

UCAPAN SYUKUR DALAM DOA MELIPATGANDAKAN KASIH KITA

 

 

 

sumber :

http://www.renunganharian.net/2014/48-maret