RENUNGAN : DOSA KECIL

“Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu ….”(Mat. 18:8)

 

Anto berkata, “Tidak apa-apa menyontek, toh hampir semua teman melakukannya.” Rina beru­jar, “Pak, berbohong kepada Mama rasanya susah dihindari. Lagian kan bohongnya demi kebaikan. Daripada Mama banyak pikiran karena aku pa­caran, lebih baik saya berbohong supaya dia tenang.” Anto dan Rina memiliki kesamaan. Mereka sama-sama menganggap dosa sebagai hal kecil dan wajar. Apakah hal ini sesuai dengan firman Allah?

Alkitab menyatakan ketika ada anak kecil yang disesatkan maka penyesat itu perlu ditenggelamkan ke dalam laut (ay. 6). Jika tangan dan kaki membuat orang lain tersesat maka lebih baik tangan dan kaki itu dipotong dari pada seluruh tubuh disiksa dalam api neraka yang kekal (ay. 8-9). Mengapa Tuhan Yesus mengajarkan hal yang terkesan kejam ini? Pernyataan Yesus tidak boleh ditafsirkan secara harafiah. Dosa memiliki pengertian salah sasaran atau menyimpang. Ketika orang menyimpang dari perintah Tuhan, sekecil apa pun penyimpangannya, ia telah tersesat. Ketika orang berkompromi dengan penyimpangan yang dianggap kecil, ia akan mudah untuk semakin menyimpang. Karenanya, seseorang tidak boleh menganggap wajar dan remeh dosa. Yesus menginginkan agar kita waspada terhadap penyimpangan dan segera kembali ketika me­nyimpang.

 Berdosa itu seperti makan sambal. Pertama kali dimakan terasa tidak enak dan tidak nyaman. Namun jika terus-menerus di­makan, sambal akan membuat ketagihan. Karena itu, berhentilah berdosa meski terkesan remeh dan wajar. Jauhi hidup yang menyimpang dari firman Tuhan!

 

 

 

Sumber :

http://www.ykb-wasiat.org/2018/10/03