Mendengar untuk Didengar

Pernah nggak merasa jengkel ketika kita bicara kepada seseorang tapi orang itu tidak paham atas apa yang kita bicarakan? Atau di suatu momen di dalam kelas ketika guru sedang menerangkan suatu materi pelajaran kita tidak mampu mengerti apa yang guru tersebut terangkan? Kalau hal ini pernah terjadi berarti ini adalah tanda bahwa kita mulai mengalami krisis ‘mendengar’. Apa hal ini dapat kita atasi? Tentunya bisa, namun harus dilakukan secara bersama baik dari diri kita sendiri maupun setiap orang di lingkungan kita.

Mendengar adalah proses menangkap suatu gagasan dalam bentuk suara melalui telinga. Setiap hari pasti kita bertemu dengan orang lain dan melakukan komunikasi. Dalam proses komunikasi inilah terdapat kegiatan mendengar dan didengar. Seperti halnya dengan hukum tabur-tuai, kita harus mau mendengar agar kita didengar oleh orang lain.

Untuk menjadi pendengar yang baik kita harus terus melatih diri kita: Pertama, tatapan mata yang fokus pada lawan bicara. Anggaplah lawan bicara kita ini adalah teman satu-satunya yang kita miliki, sehingga mata kita tertuju hanya pada seseorang yang ada di hadapan kita ini. Dengan begitu lawan bicara kita akan merasa dihargai dan bahagia saat bicara dengan kita.

Kedua, empati. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Misal di dalam kelas, ketika guru sedang menerangkan materi pelajaran. Kita juga ikut merasakan apa yang guru kita rasakan, kita rasakan bagaimana guru kita memiliki semangat untuk berbagai materi pelajaran. Dengan begitu kita akan memahami bahwa apa yang disampaikan guru tersebut adalah hal yang sangat bermanfaat buat kita.

Ketiga, temukan motivasi dari dalam diri kita untuk mendengar. Daniel Goleman (Focus, 2015), seorang ilmuan Psikologi asal Amerika pernah meneliti tentang seorang petugas militer di Pentagon yang tinggal di bungker bawah tanah untuk tetap terjaga seandainya ada Perang Dunia III. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa setelah tiga malam atau lebih kurang tidur, orang tetap bisa memperhatikan dengan jeli bila motivasi mereka cukup tinggi (tapi kalau mereka tidak peduli, mereka akan segera tertidur). Motivasi adalah motor penggerak, sama halnya dengan mendengar. Jika kita tidak memiliki motivasi untuk mendengar kita tidak akan bisa memperhatikan dan memahami apa yang orang lain bicarakan.

Selamat mendengar agar kita didengar. Semangat selalu!

 

Dhimas Bayu Wicaksono – Guru BK SMAK PENABUR Gading Serpong